PPI 81 Cibatu. Diberdayakan oleh Blogger.
السلا م عليكمBagi Rekan-rekan Alumnus, Simpatisan dan Pengunjung Bisa menyisihkan infaqnya buat Kemajuan PPI 81 Cibatu Garut. Anda bisa langsung Contact Nama : Dodi Herdiana, S.Pd 082321715797. جزاكم الله خيرا كثرا Dipergunakan untuk 1. Beasiswa Santri, 2. Haflah Imtihan, 3. Perkembangan Blog/Website.
WELLCAME TO PESANTREN PERSIS 81 CIBATU GARUT

Searching This Blog


Jumat, 26 Maret 2010

Seorang lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta cucunya, Viva yang baru berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu sudah uzur, jari-jemarinya senantiasa gemetar dan pandangannya semakin hari semakin buram. Malam pertama pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua itu merasa kurang nyaman menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung menggunakan sendok dan garpu. Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga seringkali makanan tersebut tumpah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu, selera makannyapun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya terlepas. Praaaaaannnnngggggg!! Bertaburanlah serpihan gelas di lantai. Pak tua menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam. Viva merasa kasihan melihat kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya. "Esok ayah tak boleh makan bersama kita," Viva mendengar ibunya berkata pada kakeknya, ketika kakeknya beranjak masuk ke dalam kamar. Arwan hanya membisu. Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya. Demi memenuhi tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan sendirian, sedangkan anak menantunya makan di meja makan. Viva juga dilarang apabila dia merengek ingin makan bersama kakeknya. Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan demikian. Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang mendiang isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: "Miah... buruk benar layanan anak kita pada abang." Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ. Setiap hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti budak. Pernah dia terpikir untuk lari dari situ, tetapi begitu dia teringat cucunya, dia pun menahan diri. Dia tidak mau melukai hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dicaci dan dihina anak menantu. Suatu malam, Viva terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring kayu, begitu juga gelas minuman yang dibuat dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat piring seperti itu. "Oh! Ya..." bisiknya. Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang sama! "Tak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan mangkuk ibu," kata Rina apabila anaknya bertanya. Waktu terus berlalu. Walaupun makanan berserakan setiap kali waktu makan, tiada lagi piring atau gelas yang pecah. Apabila Viva memandang kakeknya yang sedang menyuap makanan, kedua-duanya hanya berbalas senyum. Seminggu kemudian, sewaktu pulang bekerja, Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Ada palu, gergaji dan pisau di sisinya. "Sedang membuat apa sayang? Berbahaya main benda-benda seperti ini," kata Arwan menegur manja anaknya. Dia sedikit heran bagaimana anaknya dapat mengeluarkan peralatan itu, padahal ia menyimpannya di dalam gudang. "Mau bikin piring, mangkuk dan gelas untuk Ayah dan Ibu. Bila Viva besar nanti, supaya tak susah mencarinya, tak usah ke pasar beli piring seperti untuk Kakek," kata Viva. Begitu mendengar jawaban anaknya, Arwan terkejut. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya basah. Jawaban Viva menusuk seluruh jantung, terasa seperti diiris pisau. Mereka tersentak, selama ini mereka telah berbuat salah ! Malam itu Arwan menuntun tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyendokkan nasi dan menuangkan minuman ke dalam gelas. Nasi yang tumpah tidak dihiraukan lagi. Viva beberapa kali memandang ibunya, kemudian ayah dan terakhir wajah kakeknya. Dia tidak bertanya, cuma tersenyum saja, bahagia dapat duduk bersebelahan lagi dengan kakeknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya tiba-tiba berubah. "Esok Viva mau buang piring kayu dan gelas bambu itu" kata Viva pada ayahnya setelah selesai makan. Arwan hanya mengangguk, tetapi dadanya masih terasa sesak. ADAB TERHADAP ORG TUA 1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu. 2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh. 3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka. 4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita. 5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka. 6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai. 7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang dibutuhkan. Allah berfirman: “Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat” (Al-Baqarah : 215) 8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian, termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah. 9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an: وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً “Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil” (Al-Isra : 24)[8]

Rabu, 24 Maret 2010

PERSIS At the Crossroads: Lalu apa? Oleh : Malki Ahmad Nasir Semenjak didirikannya tahun 1920-an, PERSIS sebagai organisasi masyarakat (ormas) Islam telah banyak mengarungi bahra lautan, banyak gagasan yang dibawa oleh ormas ini untuk ditindaklanjuti dan dipertahankannya, dan gagasan-gasasan tentang keislaman ini masih relevan untuk tetap dijadikan solusi dalam kasus-kasus kontemporer, sebab framework yang dibawa tidak hanya sekedar bersifat karitatif tapi ia berwujud dalam ungkapan bahasa sekarang, Islamic worldview, artinya ini menyangkut dengan masalah yang fundamental dalam beragama. Kalau pun ada dan kurang relevan maka usaha rekonstruksi, kritik dan evaluasi terhadapnya sudah mencukupi. Dan merupakan suatu kewajaran kalau ada kekurangan, lain halnya kalau visi dan misi yang bersifat worldview itu, sebut saja begitu, dibongkar atau didekonstruksi, maka hal ini tidak hanya usaha untuk mengkritisi tapi menghancurkannya, dengan kata lain ia membongkar semua yang sudah bersifat fundamnetal dengan tidak menyisakan sebarang apapun.
Berkaitan dengan banyaknya permasalahan yang harus disikapi oleh PERSIS, mulai dari kurangnya SDM yang dimilikinya, mengakibatkan PERSIS kurang peka terhadap permasalahan yang semakin kompleks dan bersifat kekinian, sehingga berujung respon yang dikemukakannya terkesan apologetik dan reaktif. Juga ia tidak lagi dipandang sebagai ormas Islam yang berani tampil sebagai garda depan. Wajar kalau kemudian suaranya tidak lagi diperhitungkan baik dalam tampil dipentas nasional ataupun –boro-boro-- dipentas internasional. Peran ini sangat terbalik dengan apa yang pernah dilakukan oleh PERSIS dulu. Belum lagi permasalahan tentang larangan PERSIS yang secara organisatoris terhadap anggota-anggotanya untuk terjun di dunia politik, sehingga bukan dukungan yang didapat oleh anggota PERSIS tapi pengucilan. Dan yang terkini adalah semakin memudarnya kepeduliaan di kalangan tokoh-tokoh PERSIS terhadap pondok persantren. Pondok pesantren bukan lagi tempat untuk berdakwah dalam arti yang sesungguhnya, yaitu melahirkan generasi yang betul-betul menguasai pembacaan terhadap khazanah klasik sejak dini tanpa melupakan budaya kesantrian, tetapi ia telah dianggap berhasil kalau sudah mengeluarkan santri-santrinya, laiknya seperti sekolah-sekolah yang lain. Dengan kata lain, agenda utama PERSIS yang selama ini diusung, yaitu bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan telah terbengkalai. Lalu, prioritas apa yang perlu dibenahi dalam tubuh PERSIS? Bagaimana pula memoles visi dan misi yang diusung oleh PERSIS supaya tetap bersosok sebagai ormas Islam yang berwibawa, berpendirian dan punya tradisi dalam keilmuan? Jika begitu, persoalan dalam mengekspresikan dirinya dengan terjun ke panggung politik, saat kran kebebasan politik dibuka lebar-lebar oleh pemerintah, tidak perlu dirisaukan lagi dengan adanya kebijakan untuk mempertahankan sikap, seperti menjaga jarak, atau kalau perlu keluar dari hinggar-bingar persoalan-persoalan politik tersebut. Begitu juga, keterlibatan para ulama PERSIS dalam menjawab berbagai isu-isu yang berkembang dan kompleks, bisa manjadi tauladan dan pemicu para pemuda dan santri PERSIS untuk lebih mengapresiasi ilmu, tentunya para ulama tersebut harus sering berinteraksi dalam tradisi ilmu, dan yang paling penting waktunya tercurahkan dengan meng-ngiyai di pesantren. Dengan begitu, ini semua menjadi bagian dari tantangan bagi pengembangan kiprah PERSIS sendiri, dan bukan sebaliknya menjadi beban. Nah tulisan ini akan meyorot serta menelusuri permasalahan-permasalahan yang pemulis coba kemukakan dalam tubuh PERSIS sebagai ormas islam, tidak dinafikan juga kekeliruan-kekeliruan berbagai asumsi yang dipakai oleh berbagai tokoh-tokoh PERSIS sendiri berkaitan dengan isu-isu terjun ke gelanggang politik, kemorosotan kiprah Persis di berbagai elemen, baik dalam merespon isu-isu kontemporer ataupun isu-isu yang berkaitan dengan dunia sains dan teknologi, sampai isu tentang kekeringan memproduk SDM yang mampu berbicara di level nasional kalau perlu di international. Dalam pengantarnya buku Warisan Terakhir Ustad A. Latief Muchtar (Bandung: 1998:), Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa ormas PERSIS pun telah dan pasti mengalami seperti gerakan ormas sosial yang lainnya, yaitu melewati tahapan-tahapan: pendahuluan, popularisasi, formalisasi, dan institusionalisasi. Nah pada tahap pendahuluan ini, katanya, (preliminary stage) PERSIS muncul dalam sosok bagaimana mengatasi masalah umat yang dianggap sangat mendesak. Maka pada saat ini, kepemimpinan pun belum terpusat dan program yang jelas belum terumuskan. Pada tahap inilah pemimpin hanya inisiator. Selanjutnya, pada tahap popularisasi muncul pemimpin yang berwujud agitator. Ia menyebarkan gagasannya secara meluas. Ia beragumentasi, berdebat, dan berpolemik dengan berbagai pihak. Pada tahap kedua inilah muncul ‘jago debat’ seperti A.Hassan. Lalu pada tahap ketiga, yaitu formalisasi, para elite pimpinan PERSIS mulai merumuskan cita-cita, keyakinan, dan tujuan dengan jelas. Pada tahap ini pemimpin harus adalah seorang ideolog, karena Ia merumuskan dan menjelaskan ideologi ormas tersebut. Dan berbagai saluran komunikasi dengan massa pengikut mulai digunakan. Pada tahap ini juga berbagai media PERSIS lahir dan berkembang. Dan terakhir tahap institusionalisasi, adalah gerakan sosial sudah solid dan sebagian besar tujuannya sudah tercapai. Masyarakat sudah menerima kehadirannya. Tidak lagi diperlukan “militansi” dan hiruk-pikuk gerakan seperti pada tingkat-tingkat awal. Karenanya tugas pemimpin pada tahap ini adalah stabilisator, yang artinya memelihara organisasi dan mempertahankannya. Dengan kata lain, gerakannya lebih dititikberatkan pada pendekatan yang luwes, tidak boleh ekslusif, tapi bukan berarti tidak punya pendirian nahy munkar, committed to the truth adalah tetap menjadi bagian dari agenda bersama-sama dengan banyak menghidupkan dakwah yang mengedapankan silaturahmi dan komunikasi yang bermampaat. Dengan kata lain, gerakannya tidak bersifat fight against (untuk memberantas), yaitu bersifat reaktif, melainkan fight for ( untuk memperjuangkan), bersifat proaktif, karena itu, dalam mewujudkan agenda-agenda amar ma’ruf wa nahy munkar, tidak lagi berasas pada semangat yang berapi-api, melainkan dituntut kemampuan teknis yang tinggi (highly qualified) dan lebih banyak mengarah kepada kecakapan problem solving daripada solidarity solving. Dan kemampuan teknis yang tinggi ini memerlukan wawasan keilmuan yang mendalam (Sekolah lagi??), disertai keterlibatan yang tulus dalam masalah-masalah kemasyarakatan. Nah kalau sekarang, misalnya ada usulan dari kalangan pucuk pimpinan PERSIS memberikan keleluasaan kepada para anggotanya melibatkan dirinya dalam kancah politik, dengan arti yang seluas-luasnya, why not (apa salahnya)? Tokh ini juga bagian dari tugas mulia dan tugas utama dari suatu bidang garapan tentang bagaimana mencerdaskan dan sekaligus memberikan guidance kepada para kadernya dalam usaha menerapkan berpolitik praktis yang Islami, disamping itu, boleh dikatakan, sebagai upaya memberikan pendidikan politik yang benar dan sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Jadi persoalannya adalah dari mana kita memulai memandang dan memahami setiap permasalahan yang muncul, lagi-lagi beban atau tantangan? Tentunya kalau kita selalu memulai dengan sikap beban dalam setiap berinteraksi dengan isu atau masalah yang ada dihadapan kita, maka kita akan selalu menyikapinya dengan sikap pesimistik, menghindari, dan menjauhi resiko konflik baik secara internal atau eksternal. Lain lagi kalau kita selalu mengawali keinteraksian itu dengan sikap tantangan, maka sikap kita akan lebih optimis dan tumbuh sikap percaya diri dalam menghadapi apapun, dan yang lebih penting lagi ada semacam pandangan bersikap dan berusaha untuk selalu belajar. Dengan demikian, pespektif tantangan ini sangat cocok dengan perjuangan a la fight for, bukan berarti gaya perjuangan model fight againts tidak penting, tetapi dewasa ini skala prioritas agenda utamanya perlu dirubah, setidaknya orientasinya tidak hanya pada itu saja. Penjelasan ini untuk dirumuskan pada strategi yang tepat yang setiap saat siap dan mampu menjawab isu yang berkembang di masyarakat dan PERSIS tetap menjadi ormas Islam yang dapat dijadikan tempat bertanya dalam masalah-masalah keislaman khususnya. Dengan demikian, persoalan kehilangan daya tawar dan daya pesona pada sosok PERSIS tak perlu dirisaukan lagi, sebab orang pun akan selalu melihat pada kekuatan analisa yang terkandung dalam jawaban-jawabannya dan tidak begitu peduli pada jumlah yang secara kuantitatif kecil tetapi kualitatif tersebutlah yang sangat diperlukan. Istilah TBC sepertinya sudah menjadi yang inherent pada tubuh PERSIS dalam mengangkat isu yang berkembang disetiap masa. Istilah TBC sendiri merupakan Abbreviation dari pada takhayyul, bid’ah dan khurafat. Namun istilah ini tidak pernah dimaknai secara lebih luas dan mendalam, padahal dalam konteks sekarang ini banyak amalan-amalan atau pun pikiran-pikiran yang sememangnya masuk dalam definisi ini. Ini tentunya ada hubungannya dengan kecakapan dan kapasitas intelektual yang dimiliki oleh kalangan ulama PERSIS dalam memberikan respon terhadap isu-isu yang seharusnya dimaknai secara lebih luas. Misalnya berbagai isu yang muncul belakangan ini tentang Al-Qur’an edisi kritis, fikih lintas agama, sekularisme, plurasme agama, kawin campur, pencabutan larangan berpindah agama (murtadd), hingga soal kesesatan sekte Ahmadiyyah, dan yang lainnya. Sampai detik ini pernahkah PERSIS masa kini yang sebagai ormas Islam melakukan apa yang pernah dulu diperbuat pada era-era awal? Artinya kiprah PERSIS sekali lagi dipandang sebagai pioneer atau garda depan Ormas. Ini maknanya bertolak belakang, padahal era A. Hasan misalnya, PERSIS yang secara organisatoris sanggup menjadi lokomotif dalam berbagai aksi klarifikasi dan koreksi. Lalu dimana dan apa yang menjadi letak permasalahannya? Tentunya, hal ini ada kaitannya dengan penguasaan terhadap turas Islam dan Barat. Artinya dalam konteks sekarang ini tidak cukup menguasai khazanah intelektual dalam Islamic studies saja, seperti penguasaan Hadist, Qur'an, dan Fikih. Tapi juga dibutuhkan sebuah penguasaan terhadap bacaan Barat. Karena itu, para Ulama PERSIS yang akan datang diperlukan kepiawian bahasa Asing, yang dalam hal ini, tentunya bahasa Arab, karena ia digunakan untuk mengkaji khazanah Islam, dan satu lagi –minimalnya-- bahasa Inggris. Maka dengan menguasai dua bahasa international, akses terhadap ilmu, riset, dan matlumat akan begitu mudah dicapai. Dengan begitu, dalam konteks ini, penulis sangat setuju jikalau pengiriman santri-santri ke luar negri (timur tengah atau Malaysia?) atau dalam negri dengan catatan menggunakan bahasa Asing sebagai bahasa pengantar, atau juga diberi kesempatan mangambil kursus bahasa Asing, itu pun dengan tujuan menuntut ilmu, riset dan sebagainya, menjadi sebuah kebijakan PERSIS, sebab sampai detik ini masih terasa sebagai kebijakan beberapa pesantren. Kalau hal ini berubah maka menurut hemat penulis merupakan langkah maju, apalagi kalau pengiriman-pengiriman tersebut sampai pada jenjang Master atau P.hD. Kalau hal ini terjadi, penulis tidak bisa membayangkan bagaimana mereka akan menjadi Ulama PERSIS yang akan sanggup berbicara di pentas nasional dan international serta mempunyai kapasitas penguasaan terhadap original sources. Ini tentunya investasi yang konkrit dan merupakan fardhu kifayah yang harus dilakukan oleh PERSIS. Jika ini dipenuhi, sekali lagi, kerisauan sebagian orang yang concern terhadap PERSIS akan kurangnya SDM dimasa yang akan datang tidak akan berwujud. Dalam wawancara surat kabar delapan tahun yang lalu, ketua umum PERSIS ditanya apa yang menjadi target kesuksesan PERSIS secara umum. Ia menyatakan bahwa PERSIS semakin sukses jika orientasi kualitas anggota-semakin meningkat walaupun dari segi kuantitas mungkin menurun. Pernyataan ini tentunya dapat kita simpulkan, pertama, sebagai ungkapan apologetik atas ketidakberhasilan dan ketidakberdayaan dalam meng-upgrade anggota-anggota baru. Kedua, sebagai ungkapan yang harus dipertanyakan kembali, apakah yang dimaksud dengan peningkatan kualitas tersebut. Apakah PERSIS dengan ungkapan tersebut telah mampu mencetak SDM dengan berbagai spesialisasi yang patut dibanggakan? Atau sebaliknya, ia semakin miskin dan hampir tidak ada tokoh elite PERSIS pun yang boleh berbicara di pentas nasional. Atau mungkin sebuah penjelasan bahwa yang dimaksud dengan kualitas tersebut adalah karena telah mampu menyamakan cara ibadah ritual, atau visi dan pendapat dalam memahami Islam? Katakanlah kalau kita terima pernyataan tesebut bahwa Persis memang lebih mementingkan kualitas, lalu kenapa tidak merubah cara perekrutan? Katakanlah, misalnya, merubah kebijakan pada pola perekrutan yang selama ini dilakukan dengan begitu kaku, seperti yang sudah menjadi kebiasaan jika ada orang yang masuk dan menjadi anggota Persis, ia harus di-Persis-kan dulu. Sebab kalau cara ini diterapkan, maka dimungkinkan akan menghambat potensi para alumni pesantren yang sesungguhnya sudah mempunyai ikatan secara emosional, namun bisa saja karena masalah teknis, seperti karena potensi yang dimilikinya terpasung dan tersumbat, maka ia pasti akan berpaling ke ormas Islam lain atau karena ia diberi kesempatan dan kepercayaan penuh untuk mengembangkan potensi dirinya di ormas lain tersebut. Dan ini adalah fakta yang sebenarnya. Dan PERSIS harus mengambil pelajaran dari kasus seperti ini. Nah jika orang-orang yang mempunyai ikatan secara emotional bisa saja melakukan seperti itu, apalagi yang masih simpatisan? Dan juga yang paling penting, PERSIS harus menghapus istilah simpatisan, sebab istilah ini pun secara sadar telah menghalang keinginan seseorang untuk membakti atau mengabdikan dirinya. Sebab mungkin dan bisa jadi kalau seseorang –yang disebut simpatisan tersebut—punya potensi, bisa jadi karena mempunyai financial, kecapakan, dan yang lainnya, dilihat dari segi pengembangan buah PERSIS sangat significant. Kalau penghapusan istilah simpatisan ini terpenuhi, yang tersisa adalah anggota atau bukan anggota. Ini akan memudahkan untuk terus meng-upgrade kuantitas para anggotanya. Bila perlu mereka-mereka tersebut diberi kartu keanggotaan. PERSIS pun dalam konteks sekarang harus membangun gagasan yang lebih strategis yaitu dengan membangun network dan silaturahim dengan semua pihak. Misalnya banyak alumni Pesantren PERSIS (atau simpatisan) yang tidak menjadi anggota atau ia menjadi anggota tapi tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, mungkin karena berbagai alasan, namun mereka diusahakan masih memiliki hubungan batin dengan PERSIS. Maka, menurut hemat penulis, hal tersebut, bisa dibiarkan tetapi yang paling penting perkuat resonansi mereka dengan sebuah alat yaitu menjalin dalam jaringan informasi. Dengan begitu, maka alasan menjadi lebih mementingkan kualitas akan relevan, sebab ketimbang secara kuantitatif hanya bersifat massal tapi secara kualitatif tidak menguasai jaringan-jaringan informasi tersebut. Semoga.

Sabtu, 27 Februari 2010

Photobucket

Jika kita menyusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan juga empat imam madzhab, padahal mereka adalah orang-orang yang paling mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perlu diketahui pula bahwa –menurut pakar sejarah-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunan yang disandarkan pada Fatimah).

Asy-Syaikh Bakhit Al-Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam menyatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Maulid Ali, Maulid Fatimah, Maulid Al-Hasan, Maulid Al-Husain radhiyallahu ‘anhum, dan Maulid Khalifah yang berkuasa saat itu, yaitu Al-Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Fatimiyyun yang Sebenarnya.

Ahmad bin Abdul Halim Al-Haroni Ad-Dimasyqi mengatakan “Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al-Abbas lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun…Daulah Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak melakukan kemaksiatan) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127).

Seorang pakar sejarah yang bernama Al-Maqrizy juga menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalams setahun. Beliau menyebutkan kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi, mereka juga merayakan perayaan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani, yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al-Ghottos, hari Milad (hari Natal). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam.

Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani dalam kitabnya yang menyingkap tirai Bani ‘Ubaidiyyun, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah daripada Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim Ali sebagai ‘Ilah (tuhan). Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur daripada Yahudi dan Nashrani (Lihat Al Bida’ Al Hauliyah)

Inilah sejarah sejarah kelam dari Maulid Nabi. Dari penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah mengikuti tradisi orang-orang yang jauh dari Islam, dan telah menyerupai orang-orang yang fasik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Sikap Ahlu Sunnah Dalam Menyikapi Perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy-Syuqairy mengatakan, “Bulan Rabiul Awal ini tidaklah dikhususkan dengan shalat, dzikir, ibadah, nafkah, atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang didalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘Ied sebagaimana digariskan oleh syari’at…Bulan ini memang hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran sekaligus juga dengan hari kematiannya? Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah munkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.

Jika dalam maulid terdapat kebaikan, lalu mengapa perayaan ini tidak dilaksanakan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang-orang yang serakah pada makanan, orang-orang yang gemar menyia-nyiakan waktu dengan permainan, dan pengagung bid’ah.

Lantas, faedah apa yang bisa diperoleh? Pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan? (As-Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqah bil Adzkari wa Sholawat)
wallahuallam....kl ada referensi yang lebih sohih tolong kasih masukan sarannya,,,

Senin, 22 Februari 2010

ORANG STRESS:
Seorang Wanita di Sumenep Mengaku Sebagai Nabi

Photobucket

detikcom - Senin, 22 Februari
Warga Sumenep, Madura digemparkan dengan pengakuan seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai nabi. Wanita bernama Samawiyah (30), ini tinggal di Desa Angon Angon, Arjasa, Pulau Kangean.
Dalam ajaran yang disebarkan, Samawiyah meminta agar warga muslim tidak perlu naik haji, karena dalam dirinya telah ada ka'bah. Selain itu pengikutnya diwajibkan puasa seumur hidup.
Samawiyah yang lama ditinggal suaminya kerja di Malaysia ini sudah hampir satu tahun mengaku senagai nabi. Selama satu tahun berdakwah, dia berhasil merekrut pengikut sebanyak 18 sampai 25 orang.
Orang-orang yang menjadi pengikut Samawiyah ini mayoritas adalah keluarga terdekat dan orang yang sudah terpengaruh ajaran sesat tersebut. Bahkan, para pengikutnya juga sangat tunduk dan patuh.
Terbongkarnya adanya nabi dan ajaran nyleneh setelah warga Pulau Kangean resah dengan ajaran tersebut. Karena tidak ingin ajaran ini semakin meluas, warga pun melaporkannya ke kepala desa.
"Warga melaporkan ke saya. Lalu, diawasi dan baru ditindaklanjuti ke tingkat muspika," kata Kepala Desa Angon Angon, Moh Ridha, saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Senin (22/2/2010).

Senin, 15 Februari 2010

Dari Milis sebelah
Baik sebagai renungan kita bersama
Mari merenungkan.....

MANUSIA, IKAN DAN KATAK

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang istirahat duduk di tepi sungai. Ayahnya kemudian mengambil persediaan air dan meminumnya. " Bismillah... Alhamdulillah. ..air ini nikmat sekali. "
Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Air ini ciptaan Allah yang luar biasa, dia bisa menghilangkan dahaga dan menambah tenaga. Air adalah sumber kehidupan makhluk hidup, tanpa air semua makhluk hidup akan matii.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya nikmat sekali, ciptaan Allah yang luar biasa, bisa menghilangkan dahaga dan menambah tenaga, dan sumber kehidupan makhluk hidup, serta tanpa air semua makhluk hidup akan matii. Ikan itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai, tahukah kamu dimana air ? Aku telah mendengar percakapan manusia yang luar biasa tentang air.”

Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air dan bertemu dengan temannya Si Katak. Kepada Katak Si Ikan ini menanyakan hal serupa, “Katak.. tahukah kamu diimanakah air ?”
Katakpun tertawa dan menjawab , “Tak usah gelisah temanku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, air itu luar biasa, sumber kehidupan dan tanpa air kita akan mati. Tetapi untuk mengetahuinya mari ikut denganku" Si katak melompat ke atas daun teratai diikuti oleh ikan. "Hap...hap.. .hap aku disini tidak bisa bernafas." kata ikan, dan ikanpun melompat kembali ke air sungai. Akhirnya ikan tersebut memahami apa itu air, dan air itu memang luar biasa dan sumber kehidupannya.


Sahabat …
Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan,
Mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan,
Padahal ia sedang menjalaninya dan menyelaminya,
Bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai dia tidak menyadarinya.

Nikmat Tuhan itu seperti air di sekeliling ikan,
Sangat banyak melingkupi kehidupan kita,
Sehingga kita kadang tak sadar bahwa semuanya adalah nikmat-Nya.
Kita mengeluh mendapat musibah,
Padahal kita tidak pernah bersyukur atas nikmat yang tak terhingga.
Kita merasakan nikmat sehat bila kita sakit,
Kita merasakan nikmat kaya, setelah kita jatuh miskin,
Kita merasakan nikmat kebersamaan setelah orang dekat kita tiada,
Seperti ikan merasakan nikmat air ketika dia di daratan.

Firman Allah :
“ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zholim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).” (QS Ibrahim ayat 34)

Sahabat …
Kebahagiaan itu tidak bisa dicari,
Kebahagiaan itu tidak ada di luar diri,
Kebahagiaan itu ada di dalam diri.
Kebahagiaan adalah sikap bijaksana kita menghadapi setiap keadaan ,
Baik nikmat maupun musibah kita bisa menikmati dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan ada bila sikap IKHLAS, SYUKUR dan SABAR ada di dalam diri.

Jadi Sahabat …
Kita bisa IKHLAS, BERSABAR dan selalu BERSYUKUR…
Apabila kita FOKUS atas NIKMAT Allah yang BANYAK
BUKAN atas SATU NIKMAT Allah yang diambil-Nya. .

Wallahu a’lam bishowab

So what next?
By. Bambang IR.

Selasa, 09 Februari 2010

5 kebiasaan untuk menjadi sukses

Sukses tak bisa diraih dalam sekejap. Umumnya keberhasilan itu diperoleh lewat perbuatan dan kebiasaan yang baik. Kebiasaan ini akan memberi kekuatan dan mendorong kita untuk terus-menerus melakukan tindakan positif sampai akhirnya mencapai tujuan.

William Jones, seorang psikolog asal Amerika Serikat, mengatakan, “Apa saja yang dilakukan selama 45 kali berturut-turut akan menjadi sebuah kebiasaan.” Maka, bila selama 45 hari Anda melaksanakan suatu komitmen (misalnya tidak merokok, lari pagi atau bekerja demi mencapai sasaran yang ditargetkan), Anda akan memastikan kesinambungan hasil yang lebih baik.
Cobalah terapkan lima kebiasaan di bawah ini. Meski bukan satu-satunya kiat, kebiasaan tersebut cukup terbukti mendatangkan kesuksesan bagi orang yang menggeluti bisnis penjualan.

1. Menulis Tujuan
Dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan, orang-orang sukses selalu punya tujuan. Mereka juga senantiasa menuliskan dan mengevaluasinya setiap hari. Mencatat tujuan akan mengingatkan “alasan” kenapa Anda terjun dalam bisnis ini. Catatan tersebut akan menjaga Anda tetap fokus, serta menolong Anda melewati saat-saat sulit. Dengan menulis, wujudnya akan terasa lebih nyata dan konkrit daripada berupa ingatan dalam pikiran.
Tetapkan tujuan sebagai penuntun dalam setiap langkah Anda. Ini adalah kunci untuk meraih sukses sesuai dengan rencana. Bukan karena hoki semata.

2. Mendengarkan
Apakah Anda lebih tertarik pada apa yang harus dikatakan ketimbang ucapan lawan bicara Anda? Apakah dalam ngobrol Anda lebih banyak menjawab daripada bertanya? Apakah Anda mengarahkan percakapan dengan tujuan memperoleh “persetujuan dari orang lain”? Mendengarkan adalah unsur penting untuk sukses, namun banyak di antara kita tidak membiasakan diri sebagai pendengar yang baik.
Kunci dalam mendengarkan adalah: berhentilah sejenak ketika merasa hendak berbicara. Pusatkan perhatian pada apa yang dikatakan orang lain, lalu ajukan sejumlah pertanyaan. Dengarkan.

3. Tindakan –Bukan Hasil
Kebanyakan orang hanya memperhitungkan hasil (result). Tapi terlalu fokus pada hasil malah bisa “kontra-produktif”. Jadi, mulailah berkonsentrasi pada tindakan. Biarkan hasil terjadi dengan sendirinya.
Lebih memperhatikan hasil cenderung menjebak kita untuk mengerjakan “hal yang tepat” ketimbang melakukan “sesuatu”. Ini kerap merupakan awal dari kegagalan. Ingat, Thomas Alva Edison melakukan lebih dai 1.000 percobaan (tindakan) hingga akhirnya menemukan lampu pijar (hasil). Bila dia dulu terlalu mengikat diri pada hasil, mungkin kita semua kini masih berada dalam kegelapan.
Tindakanlah yang mendatangkan hasil. Tindakan yang berkelanjutan akan membawa hasil yang lebih besar dan lebih banyak. Tindakan konsisten—di mana setiap langkah terselesaikan sebelum bergerak ke langkah berikutnya—adalah suatu pola keberhasilan.


4. Menjaga Perjanjian
Anda mungkin sering melihat orang ingkar janji. Misalnya, berjanji menelepon, ternyata tidak sama sekali; sepakat untuk bertemu di suatu tempat, tapi tidak muncul. Semua ini membuat Anda tidak percaya pada orang itu.
Menjaga kesepakatan merupakan suatu kebiasaan yang harus dipelihara. Melanggarnya adalah tanda dari kurangnya komitmen. Menghormati tujuan dalam membuat dan menepati janji akan menjamin hampir 100% kesuksesan kita.

5. Berpikir Positif
Sudah cukup banyak hal negatif di dunia ini. Menurut Jerry Wilson, pengarang Word of Mouh Marketing, setiap tiga hal yang baik yang diucapkan orang akan diikuti oleh 33 komentar buruk lainnya. Mengatakan hal-hal yang menyenangkan tentang orang atau perusahaan akan menimbulkan citra positif. Dalam dunia yang menonjol dengan hal-hal negatif, hal itu akan menarik orang ke diri kita bagaikan magnet yang kuat.
Bila ingin bicara negatif, upayakanlah untuk berhenti. Kembangkan hal-hal positif, atau paling tidak diam. Menjadi orang yang berpikiran positif adalah hal yang bisa “ditabung di bank”, dan “bunganya” akan membuahkan kekuatan, kepemimpinan, serta kesuksesan.

Writed by : Cecep Kodir Jaelani, M.si (Mudir Mts)

Senin, 25 Januari 2010

SAY NO WAY TO VALENTINE’S DAY !

            VALENTINE’S DAY mungkin bagi Sobat Dwiker’s istilah itu sudah tidak asing lagi apalagi bagi sobat yang ngaku dirinya Anak Gaul. But….hati-hati jangan asal gaul and asal ikut-ikutan trend doank. Sebagai bahan referensi buat sobat Dwiker’s ada baiknya kalian ikuti ulasan singkat tentang Valentine’s day ini. Alkisah pada dahulu kala orang-orang Romawi merayakan acara untuk memperingati suatu hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Pebruari, mereka menamakannya Lupercalia. Peringatan ini dirayakan untuk memperingati Juno (Dewa Wanita dan Perkawinan), serta Pan (Dewa Alam)seperti apa yang mereka percayai.Setelah penyebaran agama Kristen, para pemuka gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen terhadap perayaan memuja berhala itu. 
Pada tahun 496 M, Paus Gelasius (Pope Gelasius) menggantikan peringatan Lupercalia itu menjadi Saint Valentine’s Day, yaitu hari kasih sayang untuk orang-orang suci dengan memindahkan harinya pada tanggal 14 Pebruari sebagai penghormatan bagi seorang pendeta Kristen yang dihukum mati pada hari tersebut, hingga sekarang acara tersebut terus diperingati. 
Dalam sejarah perayaan Valentine, para ahli sejarah tidak setuju dengan adanya upaya untuk menghubungkan hal itu dengan Saint Valentine yang hidup di Roma saat pemerintahan kaisar Claudius II (268-270 M) Saint Valentine ini oleh orang-orang Romawi ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara, karena dituduh membantu salah satu pihak untuk memusuhi dan mengejar-ngejar orang Kristen. Saint Valentine ini konon berhasil mengobati putri penjaga penjara yang buta. Akhirnya pada tahun 270 M, orang-orang Romawi memenggal kepalanya di Palestine (bukit  palestine) dekat Altar June. 
Dalam kaitannya dengan Valentine’s Day, banyak orang yang mengaitkannya dengan Saint Valentine yang lain. Dia adalah seorang Bishop di Terni, suatu tempat kira-kira 6 mil (convert : 1 mil =1,6 km) dari Roma. Ia pun dikejar-kejar karena memasukan suatu keluarga Romawi ke dalam agama Kristen, kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 270 M.
So, sikap sobat Dwiker’s must be..... Riset telah membuktikan bahwa anak usia 11-17 tahun adalah masa identitas. Namun, hal tersebut tidak bisa dijadikan landasan sobat untuk coba mencicipi perbuatan yang samar hukumnya. Sebagai generasi Rabbani (buat sobat Dwiker’s yang menyadari bahwa dirinya muslim pembangun masa depan) perlu kiranya setiap laku lampah sobat diedit dulu, supaya tidak menyeleweng dari budaya ketimuran kita terutama tidak terjerumus pada perbuatan dosa. Kaidah syariat Islam menyatakan “Asal (pokok dasar) perbuatan adalah terkait dengan hukum-hukum syariat Islam” so, sobat kudu paham tentang ajaran Islam. Begitu pula untuk berkasih sayang “versi Valentine’s Day” ini, haruslah diketahui dulu hukumnya. Dengan melihat n’ memahami asal usul serta realita pelaksanaan valentine’s day, sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan pola hidup seorang Muslim. Tradisi tanpa dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan kaum dengan pola hidup yang sangat jauh dari syariat Islam. Dalam QS. Al-baqarah : 35 dan Hadist Tirmidzi dijelaskan bahwa janganlah kalian menyerupai orang-orang Nasrani dan Yahudi, sesungguhnya jika demikian kalian termasuk pada golongan mereka. Saat ini banyak saudara-saudara kita yang justru membebek (ikut-ikutan) atas dikte yang diberikan Barat serta aturan-aturannya yang bathil hampir dalam semua aspek kehidupan(cara berpakaian, bergaul, dll). Nah, bagi sobat yang sudah mengetahui hukumnya mengikuti Valentine’s day, tetapkah sobat  akan mengikutinya?. Walaupun niat sobat hanya sebatas iseng, tidakkah sobat terasa miris melihat mereka para Yahudi yang merasa menang karena telah berhasil menjerumuskan kita pada lembah valentine’s day yang jelas diharamkan Islam tercinta. الله اكبر.!!!!!! 

INFAQ dan SHODAQOH

السلا م عليكمBagi Rekan-rekan Alumnus Bisa menyisihkan infaqnya buat Kemajuan PPI 81 Cibatu Garut. Anda bisa langsung Contact Nama : Dodi Herdiana, S.Pd 082321715797. جزاكم الله خيرا كثرا Kegunaan : 1. Beasiswa Santri, 2. Haflah Imtihan, 3. Perkembangan BLOG.
PhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucket PhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucket

  © Blogger templates Developed By Metana2010 in Blog 2010

Back to Top